Perubahan besar dunia menuju KHILAFAH

menuju KHILAFAH photo Menuju-MK-2013.gif

The KHILAFAH Channel

khilafah on livestream.com. Broadcast Live Free
Tampilkan postingan dengan label revolusi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label revolusi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Februari 2012

Satu Tahun Revolusi Arab (Arab Spring)

Oleh: Adnan Khan (Hizbut Tahrir Inggris)

Revolusi Arab (Arab Spring) dimulai pada bulan Januari 2011. Satu tahun telah berlalu adakah perubahan yang mendasar terjadi di Timur Tengah ?  Pergolakan ini berawal dari Tunisia, meluas ke Mesir hingga akhirnya melanda sebagian besar dunia Muslim. Setelah setahun, perubahan rezim hanya terjadi di Libya, sementara di Mesir dan Tunisia, para penguasanya mungkin berganti. Namun rezim lama sebenarnya masih tetap berkuasa. Penyebabnya adalah campur tangan kekuatan asing terutama Amerika. Amerika memanipulasi perubahan di Timur Tengah dengan tujuan  menciptakan Timur Tengah Raya baru. Dimana kekuatan lama Eropa memiliki pengaruh yang kecil.

Pemecatan Zine El Abidine Ben Ali bukanlah peristiwa yang terjadi secara acak. Namun merupakan sintesis dari korupsi yang merajalela selama 23 tahun di bawah lindungan Barat. Hal ini diperburuk krisis keuangan global dan program-program struktural pengisap darah IMF. Amerika bersemangat menunggu gejolak yang sama di Aljazair, Yordania, dan negara-negara Teluk. Mereka berharap bisa mengkontrol rezim-rezim itu untuk memberikan kesetiaan kepada Amerika Serikat, setelah sebelumnya negara-negara itu  lebih banyak berkorban untuk Inggris dan Perancis.

Mesir

Dalam hal Mesir, Amerika menjinakkan pemberontakan dengan membuang agen-agen yang setia pada Mubarak. Berikutnya menyerahkan kekuasaan kepada militer untuk memerintah Mesir. Perjanjian Terusan Suez dan Pakta bersama Mesir dengan Israel tetap berlaku sehingga banyak mengecewakan masyarakat Mesir. Saat ini Amerika secara terbuka membangkitkan kembali ambisinya untuk menguasai Dunia Arab, sesuatu yang dahulunya dianggap terlampau ambisius dan berbahaya dibicarakan secara terbuka.

Partai Ikhwanul Muslimin dan partai An Nur mendapatkan kemenangan telak. Namun agenda mereka tampaknya tidak akan berbeda dengan para pendahulunya. Walaupun Ikhawanul Muslimin adalah kelompok politik terbesar di Mesir dan kekuatan yang luar biasa, mereka justru menempatkan diri pada posisi yang lemah. Mereka menunjukkan diri bahwa mereka tidak benar-benar menyerukan kepada Islam. Berusaha menenangkan kekhawatiran dunia Barat  terhadap Islam di Mesir. Ikhwanul Muslimin menyatakan siap masuk ke dalam pemerintahan dan berkoalisi dengan partai-partai lain. Hilary Clinton mengatakan pemerintahan Obama akan melanjutkan pendekatan dengan melakukan kontak-kontak terbatas dengan Ikhwanul Muslimin yang sudah dilakukan selama sekitar lima atau enam tahun.

Partai Nour tidak  berbeda. Juru bicara partai al-Nour dari Salafi, Yousri Hammad dalam sebuah wawancara telepon dengan saluran satelit independen al-Nas  menyatakan kesiapan partainya untuk mempertahankan hubungan Mesir dengan Israel. “Mesir adalah penandatangan perjanjian-perjanjian internasional dan hal ini harus dihormati. Ini bukan pendapat pribadi saya atau pendapat dari ketua partai, ini adalah bagian dari kebijakan partai.. ” ujarnya.

Suriah

Bashar Al-Assad terus melakukan pembantaian terhadap rakyatnya sendiri, sementara masyarakat internasional hanya menonton. Respon masyarakat internasional sebagian besar hanyalah retorika. Disaat banyak yang menyerukan pemecatan Assad, Amerika malah menyerukan rezimAssad untuk melakukan reformasi.

Suriah kerap digambarkan sebagai negara yang tidak memperdulikan aturan-aturan internasional dan mendukung militan Hizbullah dan Palestina. Namun, yang luput dari pengawasan umum adalah bahwa pemerintah Amerika selalu memandang Suriah sebagai wakil Amerika yang penting yang dibutuhkan di wilayah tersebut. Suriah telah menjaga kepentingan-kepentingan Amerika, diantaranya tindakan penangkapan dan penyiksaan terhadap rakyatnya sendiri.

Di Irak, Suriah memainkan peran aktif dalam menginfiltrasi kaum Islamis dan memberikan informasi intelijen berharga kepada pasukan koalisi pimpinan AS. Termasuk kepada Pasukan Penangkis Suriah (SDF) di Lebanon yang menjamin perlindungan kepentingan-kepentingan Amerika dibawah Perjanjian Taif tahun 1989.

Amerika telah mendorong oposisi Suriah untuk memelihara dialog dengan rezim Bashar al-Assad. Mempersiapkan road map reformasi dengan tetap mempertahankan Assad. Hilary Clinton menjelaskan sikap Amerika dalam wawancara dengan media Italia Di Mezz’Ora (mei 2011) : “Yang kami tahu adalah bahwa mereka (rezim Assad) masih memiliki kesempatan melakukan agenda reformasi. Tak seorang pun percaya Qaddafi akan melakukan hal itu. Orang percaya ada kemungkinan jalan ke depan bagi Suriah.. Jadi kami akan terus bergabung dengan semua sekutu kami untuk terus untuk menekankan dengan sangat keras pada masalah itu.”

Amerika mencoba menjaga Assad tetap berkuasa, namun sekaligus mendukung pihak oposisi. Sebagai persiapan jika rezim Assad gagal mempertahankan kekuasaannya.  Oposisi Suriah secara terbuka mencari intervensi internasional. Dalam pertemuan di Antalya, Turki, pada Juni 2011 oposisi Suriah berkumpul meminta Barat untuk membantu Suriah seperti yang dilakukan di Libya. Amerika juga menyerukan pihak oposisi bersatu sehingga dewan penguasa baru dapat terbentuk. Selanjutnya Amerika akan berhubungan dengan dewan penguasa baru ini, seperti Dewan Transisi Nasional di Libya.

Libya

Setelah menggulingkan Gaddafi, Dewan Transisi Nasional (NTC) telah diterima oleh masyarakat internasional sebagai satu-satunya wakil rakyat Libya. Meskipun kenyataannya tidak diakui oleh banyak kelompok. Komentar-komentar baik dari London maupun Paris sejak jatuhnya Tripoli tentang pentingnya  keberadaan pasukan penjaga perdamaian di sana adalah sebuah tanda yang buruk. Interverensi Barat akan tetap berlangsung.

Saat ini Libya tidak memiliki tentara sepenuhnya mapan. Libya masih belum memiliki otoritas politik yang tersentralisasi pasca jatuhnya Gaddafi. Negara itu masih berjuang untuk pulih dari perang panjang melawan Gaddafi selama berbulan-bulan. Baik NTC dan maupun pemerintahan transisi yang terbentuk pada November 2011 belum benar-benar berkuasa. Kekuasaan masih berada di tangan milisi bersenjata. Tak satupun yang bisa mewakili kekuatan militer nasional. Masyarakat internasional telah lama memandang NTC sebagai embrio negara Libya di masa depan.

Namun, pada saat ini NTC melihat  tantangan yang paling dasar dari pembentukan negara adalah membangun keamanan internal. Terutama membentuk Tentara Nasional Libya . Namun sejauh ini semua upaya untuk mengancam milisi agar tunduk tidak menunjukkan hasil apa-apa.Sehubungan dengan Libya harus diingat bahwa Amerika memandang ketidakstabilan di Libya sebagai kesempatan untuk mendapatkan pengaruh di negara tersebut.

Tunisia

Ketika Ben Ali digulingkan, beberapa pihak terus melakukan kontak dengan Prancis dan Inggris. Kelompok politik ini berusaha untuk menunda pemilihan umum. Dalam pandangan mereka situasinya belum tepat dan pada kenyataanya mereka akan mengumpulkan sangat sedikit suara. Namun pemilu akhirnyat tetap berlangsung. Ketika pemilu berlangsung Oktober 2011,  pemilu itu hanya untuk memilih sebuah majelis konstituante. Majelis baru ini memiliki 217 anggota. Hanya 50% dari pemilih yang memberikan suara. Ennahdah sendiri mendapatkan 38% dari total suara.

Dalam usahanya yang menenangkan kekhawatiran Barat, Ketua Partai Ennahdah, Rachid Ghannouchi, menjelaskan penolakannya dengan pendirian Khilafah:.. “Tentu, kami adalah negara bangsa. Kami menginginkan sebuah negara untuk reformasi Tunisia, untuk Negara Tunisia. Adapun isu Khilafah, hal merupakan sebuah isu yang tidak ada dalam kenyataan. Realitas saat ini adalah bahwa kami adalah Negara Tunisia yang menginginkan reformasi, sehingga menjadi sebuah negara untuk rakyat Tunisia, bukan untuk melawan mereka.. ” Ghannouchi  menjadi pendukung  jangka panjang reformasi Islam  dalam meniru model pemerintahan Turki.

Yaman

Setelah tekanan yang intens dan terjadi perdebatan politik, Salah menyetujui kesepakatan GCC pada akhir November 2011. Salah akhirnya  menyerahkan kekuasaan kepada Abdrabuh Mansur Hadi,wakil presiden Yaman. Salah berusaha menegosiasikan transfer kekuasaan dengan pihak oposisi sebagai imbalan janji kekebalan dari penuntutan.

Meskipun Saleh akan secara resmi mengundurkan diri sebagai presiden dan pemilu akan berlangsung pada bulan Februari 2012, transisi politik di Yaman sama sekali bukan merupakan perubahan rezim. Kesepakatan itu memberikan Saleh mundur dengan bermartabat. Tapi orang harus bertanya mengapa Saleh menyetujui kesepakatan itu setelah menolak untuk menandatangani perjanjian yang sama pada berbagai kesempatan sebelumnya? Tampaknya Saleh sudah mempersiapkan diri  dengan mewariskan rezim yang tetap dibawah kontrol keluarganya.

Pasca Rezim Saleh, rezim itu penuh dengan anggota keluarganya. Anaknya Ahmed Ali Saleh, masih tetap memiliki kontrol atas angkatan bersenjata. Perjuangan di Yaman akan terus berlanjut karena Saleh berupaya untuk mendikte kebijakan Yaman dari balik layar.Meskipun secara resmi ia tidak lagi berkuasa. Yaman adalah contoh lain dimana pribadi mungkin telah berganti tetapi rezim tetap berkuasa. Hal ini membuat bangsa ini tetap tidak stabil.

Masalah terbesar dengan Yaman adalah perjuangan Anglo-Amerika yang sedang berlangsung. Sekretaris Luar Negeri Inggris Deputi Urusan Timur Tengah, Evan Louis ketika bertemu dengan Duta Besar Yaman di London pada tanggal 24 November 2009 menjelaskan mengenai situasi di Yaman: “Apa yang terjadi di Yaman adalah perpanjangan perang (proxy war).”

Amerika telah menggunakan perang melawan teror untuk melemahkan Ali Abdullah Saleh, dengan menuduh Yaman menjadi tempat berkembang bagi Al Qaeeda. Ali Abdullah Saleh mencoba menenangkan Amerika dengan sejumlah jaminan keamanan . Saleh memberikan kesempatan bagi Amerika melakukan serangan pesawat tak berawak di negeri itu.

Selasa, 19 April 2011

Kekhawatiran Keamanan dan Politik Mendahului “Nushrah” Tripoli Untuk “Revolusi Syam”

Warga Tripoli sedang menahan nafas sebelum hari Jum’at depan, yang dijadwalkan akan berlangsung aksi demonstrasi solidaritas terhadap “Revolusi Suriah”, di tengah kekhawatiran keamanan akan adanya aksi demonstrasi tandingan, sehingga bisa jadi aksi solidaritas ini berubah menjadi arena konfrontasi.

Sikap langsung yang pertama datang dari pihak Lebanon terkait masalah Suriah sejak munculnya gerakan protes di Suriah pada tanggal 15 Maret lalu, partai Islam “Hizbut Tahrir” wilayah Lebanon telah menyerukan kemarin, untuk melakukan “demonstrasi nushrah untuk revolusi Syam, dari Tripoli untuk Syam”, setelah shalat Jum’at pada tanggal 22 April ini, bergerak dari Masjid Agung al-Manshuri di pusat kota tua.

Pengumuman Hizbut Tahrir ini disampaikan melalui selebaran (nasyrah) yang dibagikan setelah shalat Jum’at kemarin di depan pintu sebagian besar masjid di Tripoli dan wilayah Utara. Selebaran (nasyrah) itu membenarkan tetang aksi demonstrasi itu. Menurut apa yang ada dalam selebaran (nasyrah), bahwa aksi demonstrasi itu dalam rangka “nushrah (dukungan) untuk saudara-saudara kita di Suriah, di mana rezim tirani sedang melakukan berbagai kejahatan pembunuhan, penyiksaan dan penghinaan, serta berpartisipasi terhadap longmarch (masîrah) yang dilakukan umat Islam untuk mengembalikan kekuasaannya yang dirampas.”

Jumat, 04 Februari 2011

Revolusi Yaman: Sekitar Sejuta Rakyat Berkumpul Menutut Perubahan Rezim, Menolak Kediktatoran!

Gejolak revolusi di negeri-negeri Arab terus menggema mulai dari Tunisia hingga Yaman. Kini rakyat semakin menyadari atas tindakan zhalim serta kediktatoran para penguasa negeri mereka yang kebanyakan didukung oleh Amerika dan Barat. Sekitar satu juta pengunjuk rasa diperkirakan berkumpul di ibukota Sana'a, Yaman, untuk menghadiri "hari kemarahan" terhadap Presiden berkuasa Ali Abdullah Saleh, Kamis, 03/01/2011.

Press TV melaporkan demonstrasi anti pemerintah pecah di Yaman setelah Presiden mengusulkan amandemen konstitusi pada bulan Januari yang bisa membuat Preiden Saleh tetap berkuasa.

Setelah berhari-hari terjadi gejolak demonstrasi di seluruh negeri Yaman, Saleh akhirnya berkata pada Rabu untuk tidak berusaha memperpanjang masa kepresidenannya ketika berakhir pada tahun 2013. Dia juga berjanji tidak akan mewariskan kekuasaannya kepada anaknya.

Para pengunjuk rasa menuntut pergantian pemerintah dan menolak tawaran Presiden Saleh mundur pada tahun 2013 setelah lebih dari 30 tahun berkuasa. Sementara itu, ribuan pendukung presiden melakukan aksi serupa di satu lapangan terbesar kota ini. Dua kegiatan ini merupakan aksi terbesar dalam aksi protes selama dua minggu terakhir yang diinspirasi oleh kebangkitan rakyat di Tunusia dan Mesir.

Dalam sidang darurat parlemen hari Rabu (02/02), Presiden Saleh yang berusia 64 tahun, membeberkan rencana untuk mundur dengan mengatakan tidak akan memperpanjang masa jabatan sebagai presiden dan menegaskan tidak akan memberikan jabatan itu kepada puteranya.

Presiden juga meminta para pengunjuk rasa untuk membatalkan aksi mereka, namun kedua kubu tetap berkumpul di tempat yang berbeda di Sana'a.

Namun, rupanya rakyat tetap menginginkan perubahan. Mereka meneriakkan pergantian rezim dan menolak kediktatoran.

"Rakyat menginginkan pergantian rezim," teriak para pengunjuk rasa anti pemerintah yang berkumpul di depan Universitas Sana'a. "Tolak korupsi, tolak kediktatoran."

Kegiatan yang disebut "hari amarah" ini diselenggarakan oleh kelompok-kelompok masyarakat madani dan para pemimpin opsosi yang mengeluhkan soal peningkatan kemiskinan di kalangan rakyat berusia produktif yang terus bertambah, dan rasa frustasi dengan kurangnya kebebasan berpolitik.

Angka pengangguran di Yaman mencapak 40%, sementara harga pangan terus meningkat dan tingkat kurang gizi mencapai titik parah.

Negara ini juga dibebani dengan berbagai masalah keamanan seperti gerakan separatis di selatan dan perlawanan para pemberontak Shia Houthi di wilayah utara.

Demikianlah, di berbagai negeri, kini rakyat menyadari setelah sekian lama dicengkram kediktator yang hampir semuanya didukung oleh Amerika Serikat dan Barat. Kini, umat menginginkan pergantian sistem dan rezim.

Sekedar pergantian penguasa tanpa pergantian sistem, tidak memberikan perubahan nyata. Revolusi nyata itu terjadi ketika pergantian sistem dari sistem jahiliyah buatan manusia menuju sistem paripurna yang berasal dari Pencipta Alam Semesta. Insya Allah, Khilafah Islamiyyah akan menjadi buah nyata revolusi sejati tersebut. [m/bbc/syabab.com]

Jumat, 21 Januari 2011

Revolusi Tunisia dan Prospek 'Revolusi' Islam Indonesia

Akhirnya rezim Tunisia rontok oleh kekuatan umat. Rakyat Tunisia yang sudah muak dengan kepemimpinan sekuler pimpinan Zine El Abidine Ben Ali berhasil menggulingkan rezim tersebut setelah berkuasa selama puluhan tahun lamanya.

Diberitakan bahwa Ben Ali mundur ketika terjadi aksi demonstrasi besar-besaran di Tunis, ibukota Tunisia. Polisi terpaksa membubarkan demonstrasi dengan gas air mata. Sebanyak 13 orang dikabarkan tewas akibat bentrokan dengan aparat atas intuksi pemerintah. Sedangkan aktivis hak asasi manusia melaporkan sedikitnya 60 orang tewas dalam huru hara tersebut. (kanal internasional online, 14/01).

Revolusi Tunisia inipun tampaknya sudah menjadi virus yang menyebar cepat ke sejumlah negara Arab. Sebagaimana diberitakan rakyat merdeka online, beberapa negara bagian Arab dilaporkan mulai diguncang aksi unjuk rasa me­nentang pemerintahan sah ne­garanya masing-masing. Misalnya di ibukota Yordania, Amman. Sejumlah massa kelom­pok oposisi berorasi sambil ber­pidato di depan para peserta aksi demo. Mereka berteriak lantang, merasakan penderitaan yang sama dengan warga Tunisia. Se­mentara di Yaman, kelompok-ke­lompok mahasiswa turun ke jalan di ibukota negara, Sanaa sambil menyerukan revolusi terhadap para pemimpin Arab yang penuh “tipu daya”.

Di massa kepemimpinannya sejak tahun 1987, Ben Ali berlaku semena-mena terhadap rakyatnya. kehidupan rakyat semakin memburuk, kemiskinan semakin luas, harga-harga kebutuhan pokok semakin meningkat, pengangguran bertambah banyak, khususnya kaum muda. Sementara itu , asset negara terus menumpuk disekitar kroni-kroni Ben Ali, sehingga tak lagi menyisakan bagi kepentingan rakyat. Rakyat benar-benar terkecik dengan segala kebijakan dan penguasaan yang dilakukan oleh rejim tersebut. Ben Ali juga dikenal bertindak sangat represif terhadap para aktivis Islam yang ingin memperjuangkan tegaknya Islam. (eramuslim.com).

Ada dua kubu dalam krisis di Negara yang penduduknya 99% Muslim itu, pertama adalah kubu rezim yang di dukung oleh polisi dan militer. Seperti pada umumnya, pihak militer memang harus mengabdi pada rezim yang sedang berkuasa. Meskipun tidak menutup kemungkinan dalam hati kecil mereka juga tidak menginginkan adanya peristiwa berdarah itu. Itulah kenapa militer seringkali di posisikan sebagai pihak korban instruksi atau korban dari sistem. Sementara itu kubu yang kedua adalah rakyat yang menginginkan tergulingnya rezim.

Dari situ dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor utama terjadinya perubahan adalah umat. Sedangkan dalam sejarahnya apabila sebuah Negara itu ingin benar-benar berubah adalah dengan jalan perubahan yang bersifat revolusioner. Tidak cukup hanya berganti orang yang berkuasa namun juga harus berganti sistem.

Beberapa peristiwa revolusi di dunia diantaranya: Revolusi disertai kekerasan: Revolusi Perancis (1799 M), revolusi China (1927 M – 1949 M), dan revolusi Indonesia yang membebaskan diri dari cengkeraman penjajah (1945 M). Revolusi tanpa kekerasan: revolusi Iran (1979 M), revolusi Philipina (1986 M), juga Perubahan revolusioner Islam yang dilakukan Rasul Saw dan para sahabat di madinah ketika itu.

Islam sendiri telah mencontohkan ada dua model perubahan, yakni perubahan secara Parsial (islahiyah), ini dilakukan bila sistem Islam masih diterapkan dan kerusakan hanya pada cabang-cabangnya saja. Yang kedua perubahan secara Revolusioner (inqilabiyah), yang ini jika keadaan sudah rusak dari akarnya.

Pertanyaanya mau dibawa kemana Tunisia pasca revolusi?, sebagai Negara yang berpenduduk mayoritas Muslim tentunya tidak ada pilihan lain kecuali berubah dari Negara sekuler ke Negara Islam, Negara yang menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam bingkai Negara khilafah. Karena hal itu merupakan tuntutan keimanan mereka, disamping itu dapat membuat Negara yang berbatasan dengan Aljazair tersebut menjadi Negara yang maju dan sejahtera. Namun tentu jika ingin menuju ke sistem Islam, haruslah ada dukungan umat, termasuk militer setempat.

Disisi lain, Amerika telah berancang-ancang untuk meyodorkan solusi tersendiri untuk Negara itu. Seperti dilansir wartanews, hal tersebut disampaikan Obama kepada sahabat dekatnya, Presiden Mesir Husni Mubarok, sesaat setelah tergulingnya Rezim Ben Ali.

Indonesia & Tunisia menerapkan sistem sekulerisme

Sejatinya kondisi di Tunisia bisa dikatakan tidak jauh beda dengan apa yang dialami oleh Indonesia yang notabene juga sama-sama berpenduduk mayoritas Muslim ini. Sama-sama menerapkan sistem sekurelisme, sama-sama juga sedang terpuruk kondisi negaranya. Cuma bedanya penguasa di sini lebih mengedepankan soft power untuk ‘menjinakkan’ para aktivis Islam. Maksudnya untuk mengendorkan perjuangan penegakkan ideologi Islam.

Bagi aktivis Islam yang dianggap radikal maka rezim di sini menggandeng/digandeng Amerika serikat dengan ‘war on terrorist’ nya. Tetapi lagi-lagi disayangkan, yang terjadi dilapangan, dalam hal ini Densus 88 sebagai ujung tombaknya seringkali bertindak ngawur, banyak orang-orang yang tidak bersalah dijadikan sasaran. Bahkan disebut-sebut, Densus 88 telah melakukan pelanggaran HAM berat dalam penangana kasus terorisme ini.

Ideologi Islam ternyata juga tidak mati, bahkan semakin tumbuh subur. Akhirnya baru-baru ini juga dimunculkan strategi deradikalisasi untuk mensekulerkan umat Islam di Indonesia. Disisi lain, aktivis Islam yang mencoba berjuang lewat dalam sistem, perlahan-lahan terus ditarik hingga meninggalkan ideologinya.

Jelaslah kedua Negri muslim ini tengah di atur dengan sebuah sistem kufur, sistem buatan manusia yang bertentangan dengan akidah dan syariah Islam. Sebagai muslim, tentu hal ini tidak boleh didiamkan, syariah dan khilafah harus di tegakkan, sekulerisme harus di singkirkan.

Prospek Revolusi Islam Indonesia

Guna menuju revolusi Islam di Indonesia maka harus ada dua faktor penting, pertama: mayoritas masyarakat menginginkan tegaknya ideologi Islam, atau minimal mereka tidak menentangnya. Kedua: pihak-pihak yang memiliki kekuatan riil (militer, tokoh umat, dll) di tengah-tengah umat juga mau untuk menjadi pendukung tegaknya hukum-hukum Allah tersebut.

Kondisi saat ini, menurut hemat penulis, ada tiga kelompok yang berada di tengah-tengah masyarakat. Diantaranya:

1. Kelompok pejuang dan pendukung tegaknya ideologi Islam

2. Kelompok masyarakat netral.

3. Kelompok penentang ideologi Islam.

Kelompok pertama ialah para aktivis dakwah yang berjuang untuk mewujudkan cita-cita mulianya itu. Mereka terdiri dari individu maupun kelompok Islam (partai/ormas) baik yang konsisten dalam perjuangan maupun tidak. Ditambah masyarakat yang telah memahami bahwa Islam harus ditegakkan dan mereka mendukung perjuangan.

Sementara kelompok kedua merupakan sebagian masyarakat di pedesaan maupun perkotaan. Kelompok ini tidak begitu peduli dengan pertarungan ideologi yang ada disebabkan sebagian besar diantara mereka belum begitu paham jika Islam merupakan sebuah ideologi, dan jika perjuangan penegakkan syariah dan khilafah merupakan konsekwensi akidah mereka.

Sedangkan kelompok ketiga, ini bisa di katakan sebagai penyakit, mereka diantaranya: aktivis liberal, pengemban kapitalisme, pejuang sosialisme, dll. Sejatinya jumlah mereka sangat sedikit, namun seolah-olah berjumlah banyak sebab mereka sering “nyanyi” di media dikarenakan juga didukung oleh sebagian besar media sekuler. Dalam kasus ini sering dilakukan oleh kelompok liberal.

Teruntuk kelompok pejuang sosialisme, mereka sering mengklaim punya massa banyak, yakni kaum buruh, padahal mereka cuma menungganginya dalam rangka para buruh yang ingin memperoleh hak-haknya. Mayoritas kaum buruh adalah masuk kelompok kedua.

Kultur Islam

Kultur masyarakat Indonesia adalah kultur Islam tentunya hal ini sangat kondusif untuk tegaknya Ideologi Islam di Negri ini. Dalam hati kecil mereka begitu mencintai Islam, entah seperti apapun tingkat keimanan mereka. Ada kejadian menarik yang pernah di alami oleh penulis, saat salah seorang preman mengatakan pada penulis “Mas, saya itu orangnya begini, tapi saya akan marah jika Islam dihina dan dilecehkan” (dalam bahasa jawa). Pada kasus lain, di orang yang tidak sama, saat menceritakan peristiwa gempa di Bengkulu dan orangnya kebetulan waktu itu berada disana, mengatakan: “Mas, aku dulu takut sekali saat gempa, yang ada dipikiranku, bahwa aku belum sholat mas”.

Itulah contoh-contoh yang menunjukkan jika sejatinya kultur masyarakat Indonesia adalah kultur Islam. Orang-orang yang seperti ini juga merupakan objek dakwah yang berhak mendapatkan pesan dakwah Islam, karena mereka juga merupakan korban dari sistem sekulerisme yang telah melahirkan banyak generasi yang jauh dari ajarannya. Mereka bagian dari kelompok kedua.

Sebagian masyarakat Indonesia mungkin belum paham betul tentang Ideologi Islam, namun jika dikatakan bahwa Ideologi Islam itu adalah hukum-hukumnya Allah, dari Allah Swt, maka akan sulit bagi mereka untuk menolak penerapannya. Apalagi bila disampaikan bahwa hukum Allah niscaya membuat Indonesia menjadi maju dan sejahtera.

Potensi Indonesia

Indonesia memiliki potensi yang cukup bagus bilamana khilafah tegak mulai dari negri ini. Setidaknya hal ini di dasarkan dari beberapa pertimbangan:

1. Secara geo-politik dan geografis, Indonesia memiliki wilayah yang luas, jumlah penduduknya sangat banyak, tentaranya juga banyak. Tentu hal ini akan membuat Indonesia dengan pertolongan Allah menjadi Negara yang kuat ketika tegak Ideologi Islam.

Wilayah Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Apabila perairan antara pulau-pulau itu digabungkan, maka luas Indonesia menjadi1.9 juta mil persegi. Dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa.

Sementara jumlah tentaranya berdasarkan data Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada tahun 2006 dan Jaffa Center of Strategic Studies (JCSS), Indonesia memiliki 316.000 tentara aktif , 400.000 pasukan cadangan, dan 207.000 paramiliter. Tentara-tentara ini tentunya akan menjadi semakin hebat dengan sentuhan akidah Islam, dan bukan nasionalisme. Sekeras apapun mereka, niscaya akan luluh ketika berhasil tersentuh dengan akidah Islam yang mendalam, contohnya adalah Umar bin Al-khatab. Apalagi sebagian besar dari mereka sudah Muslim.

2. Secara geo-ekonomi, Indonesia merupakan Negara ‘zamrud katulistiwa’ yang kaya akan kekayaan alam, tanahnya subur, hutannya luas. Hal ini tentunya menjadikan Indonesia sebagai wilayah yang strategis untuk tegaknya khilafah Islam. Dalam catatan Dr. Fahmi Amhar (Praktisi Bakosurtanal) bahwa nilai potensi lestari laut Indonesia baik hayati, non hayati, maupun wisata adalah sekitar US$ 82 Milyar atau Rp. 738 Triliun. (Al-Waie, 2010).

Sementara di sektor Migas ada Ada 60 cekungan besar minyak bumi dan gas, serta 11 yang sudah berproduksi yaitu: Cekungan Sumatera Utara, Cekungan Sunda, Cekungan Jawa Timur Laut, Cekungan Bone, Cekungan Kutai, Cekungan Seram, Cekungan Salawati dan Cekungan Bintuni, Cekungan Sibolga (tahap eksplorasi), Cekungan Bengkulu (tahap eksplorasi), Cekungan Jawa Selatan (tahap eksplorasi), Cekungan Bangai (tahap eksplorasi). Dari 11 yang sudah berproduksi dihasilkan minyak bumi sebesar 1,93 miliar barel dan gas bumi sebesar 107,5 TCF. (waspada.co.id 2008).

Kekayaan emas Freeport di papua, cadangan emas dan perak juga terdapat di Delta Kapuas, Kepulauan Riau, Pantai Sukabumi. Dan masih banyak lagi kekayaan alam yang di anugerahkan oleh Allah SWT kepada Indonesia. Namun sayangnya sekarang ini banyak dikuasai oleh segelintir orang, terutama asing karena sistem kapitalisme yang dianut.

Syariah Islam semakin diterima

Seiring waktu berjalan, syariah Islam semakin mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia. Ada sebuah poling yang cukup mengejutkan dilakukan oleh sebuah lembaga survei yang di monitoring universitas Mariland AS pada tahun 2007, meskipun agak ditutup-tutupi, diantaranya dilakukan di Indonesia dan hasilnya: kebanyakan responden sepakat terhadap penegakkan syariah dan khilafah dengan prosentase 53%, lebih rendah dibandingkan prosentase Negri-Negri Islam lain (Mesir 71%, Pakistan 79%, Maroko 76%).

Hari demi hari syariah Islam Alhamdulillah semakin diterima, tanda-tanda kebengkitan Islam pun sudah tampak di depan mata. Tak heran jika National Intelelligence Council’s (NIC) pernah merilis sebuah laporan yang berjudul Mapping the Global Future. Dalam laporannya itu diprediksikan bahwa akan ada empat skenario besar dunia di tahun 2020, salah satu yang disebutkan adalah A New Chaliphate atau berdirinya kembali khilafah Islam, sebuah pemerintahan Islam global yang mampu memberikan tantangan pada norma-norma dan nilai-nilai global.

Demikian juga cukup menarik isi dari sebuah buku karya Mr. Michael Buriyev (Wakil Ketua Parlemen Rusia) yang menyatakan: dunia sedang menuju menjadi 5 negara besar yakni: Rusia, Cina, Khilafah Islam, Konfederasi Dua Amerika, dan India jika India bisa bebas dari cengkraman Islam yang mengurungnya (Pakistan, Bangladesh, Kasmir, Afganistan).

Menuju Khilafah Islam

Barang siapa yang meneliti sirah nabi, maka akan ditemukan bahwa Rasulullah telah melakukan langkah-langkah terarah untuk menuju tegaknya Ideologi Islam.

Pertama, Setelah diangkat menjadi rasul, Beliau mendidik calon-calon kader dakwahnya seperti Abu Bakar Ash-Shidiq, Ali bin Abi Tholib, Zaid bin Haritsah, dan sahabat yang lain. Mereka digembleng secara terpadu oleh Rasululloh di rumahnya Arqam bin Arqam.

Kedua, para sahabat yang dibina tadi ditugaskan oleh Rasul untuk melakukan dakwah Islam, menggulirkan pergolakan pemikiran, menyadarkan masyarakat yang dahulunya pemikiran, perasaan, tingkah lakunya masih jahiliah diubah menjadi pemikiran, perasaan, dan tingkah laku yang Islami. Masyarakat yang tadinya penyembah berhala, diganti dengan penyembahan hanya kepada Allah semata. Kelompok (hizb) dakwah ini dikomandoi langsung oleh Baginda Rasulullah SAW.

Ketiga, Rasul selaku pemimpin kelompok (hizb) dakwah tersebut juga melakukan aktivitas yang dikenal dengan istilah Thalabun Nushrah (mencari pertolongan) kepada pihak yang mempunyai kekuatan riil (ahlul kuwwah). Beliau pernah mendatangi kabilah-kabilah semacam; Bani Hanifah, Bani Kalb, bahkan Bani Tsaqif di Thoif Rosul sempat dilempari batu oleh penduduk setempat sampai kakinya berdarah-darah. Melalui sikap konsisten Beliau, akhirnya datang juga pertolongan Allah dengan bersedianya suku Aus dan Khazraj menerima pinangan Rasulullah. Sebelumnya mereka telah didakwahi oleh para sahabat.

Alhasil, kelompok (hizb) Rasul yang memotori perubahan tersebut, ditopang oleh masyarakat yang telah terbentuk kesadarannya sehingga menginginkan perubahan ke arah Islam. Mereka hanya mau diatur dengan wahyu bukan yang lainnya, pihak ahlul kuwwah pun juga mendukung tegaknya Ideologi Islam, maka sudah tidak ada yang mampu membendung lahirnya Daulah Islam pertama di Madinah waktu itu.

Selamatkan dengan Syariah

Indonesia, Tunisia, dan negri-negri lain harus di selamatkan dengan Islam. Sistem ini telah menjadikan Raksasa Islam tertidur lelap, dijajah, dan di hinakan oleh Musuh-Musuh Islam.

Karena itu, pembinaan pada umat dengan pemikiran Islam yang Ideologis harus terus digelorakan. Melakukan counter pemikiran atas apa yang disuarakan oleh kaum liberal yang biasa mengatakan Syariah Islam adalah ancaman bagi Indonesia, namun sebaliknya, Islam akan menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan. Kapitalismelah ancaman yang sebenarnya.

Mesti di jelaskan kepada umat secara keseluruhan, termasuk diantaranya jajaran militer, tokoh masyarakat, juga para intelektual, atas kepalsuan ide-ide selain Islam seperti Kapitalisme, sosialisme, sekulerisme, pluralisme, Liberalisme Dst. Serta melakukan dakwah yang bersifat politis dengan mengajak umat untuk menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Karena semua ini adalah konsekwensi keimanannya sebagai muslim.

Revolusi di Tunisia paling tidak menunjukkan bahwa kekuatan umat merupakan faktor penting terjadinya perubahan. Mari selamatkan Indonesia dengan Syariah, untuk apa mempertahankan penguasa pembohong dan sistem yang nyata-nyata membuat Indonesia menjadi terpuruk dan bertentangan dengan akidah Islam. Ingatlah bahwa pertolongan Allah itu amat dekat. Wallahu a’lam bi ash-shawab

By: Ali Mustofa